A — Rania, 36, Ärztin aus Syrien
Fachlich war ich sofort einsatzbereit, aber es hat drei Jahre gedauert, bis mein Abschluss anerkannt war. Diese Zeit hat mich mehr Nerven gekostet als das Deutschlernen selbst.
🇮🇩 Lihat terjemahan (Bahasa Indonesia)▼
A — Rania, 36, dokter dari Suriah: Secara profesional saya langsung siap kerja, tapi butuh tiga tahun sampai ijazah saya diakui. Waktu itu lebih menguras saraf daripada belajar bahasa Jerman.
B — Mateusz, 29, Bauarbeiter aus Polen
Ich lebe seit sieben Jahren hier. Deutsch spreche ich gut genug für den Alltag, aber tiefer wird der Kontakt zu Deutschen selten. Meine engsten Freunde sind meist auch aus Polen.
🇮🇩 Lihat terjemahan (Bahasa Indonesia)▼
B — Mateusz, 29, pekerja bangunan dari Polandia: Saya di sini 7 tahun. Jerman saya cukup untuk sehari-hari, tapi kontak dengan orang Jerman jarang mendalam. Teman dekat saya juga kebanyakan dari Polandia.
C — Fatima, 42, Erzieherin aus Marokko
Für mich war der Kindergarten der Schlüssel. Als meine Tochter dort war, habe ich andere Eltern kennengelernt — und mich fast automatisch integriert.
🇮🇩 Lihat terjemahan (Bahasa Indonesia)▼
C — Fatima, 42, pendidik dari Maroko: Bagi saya TK adalah kunci. Saat anak saya di sana, saya kenal orang tua lain — dan hampir otomatis terintegrasi.
D — Herr Nguyen, 58, Betreiber eines Restaurants
Ich bin vor 30 Jahren gekommen und war lange in der eigenen Community. Erst als ich mein Restaurant eröffnete, hat sich meine Welt geöffnet — durch die Gäste.
🇮🇩 Lihat terjemahan (Bahasa Indonesia)▼
D — Bapak Nguyen, 58, pemilik restoran: Saya datang 30 tahun lalu dan lama berada di komunitas sendiri. Baru ketika membuka restoran, dunia saya terbuka — melalui para tamu.