Warum immer mehr Lehrkräfte den Beruf wechseln
Eigentlich liebt Christine Heger ihren Beruf. Seit fünfzehn Jahren unterrichtet sie Deutsch und Geschichte an einem Gymnasium in der Nähe von Stuttgart. „Mit den Jugendlichen zu arbeiten, ist das Schönste, was ich kenne“, sagt sie. Trotzdem hat sie sich vor kurzem entschieden, im nächsten Schuljahr nur noch halbtags zu arbeiten und nebenbei in einem Verlag mitzuhelfen. Sie ist nicht die einzige: In den letzten drei Jahren haben in Deutschland tausende Lehrkräfte ihre Stundenzahl reduziert oder den Beruf komplett verlassen.
Die Gründe sind vielfältig. Viele Befragte berichten von steigendem Druck durch Eltern, die ständig kritische E-Mails schicken. Andere klagen über zu große Klassen und zu wenig Zeit, um auf einzelne Schülerinnen und Schüler einzugehen. Hinzu kommen Aufgaben, die nicht direkt mit dem Unterricht zu tun haben: Vertretungspläne, Konferenzen, digitale Plattformen, die regelmäßig zusammenbrechen.
Bildungsforscher warnen, dass die Lage langfristig gefährlich wird. „Wenn die Erfahrensten gehen, verliert die Schule ihre Stabilität“, sagt Professor Linde von der Universität Köln. Er fordert kleinere Klassen, mehr Schulpsychologinnen und eine bessere Bezahlung gerade für Lehrkräfte an Brennpunktschulen. Politik und Gewerkschaften sind sich zwar einig, dass etwas geschehen muss, aber konkrete Reformen lassen auf sich warten — auch, weil sie viel Geld kosten würden.
🇮🇩 Lihat terjemahan (Bahasa Indonesia)▼
Sebenarnya Christine Heger mencintai pekerjaannya. Selama lima belas tahun ia mengajar Bahasa Jerman dan Sejarah di sebuah Gymnasium dekat Stuttgart. „Bekerja dengan remaja adalah hal terindah yang saya tahu,“ katanya. Meski begitu, ia baru-baru ini memutuskan untuk hanya mengajar setengah hari pada tahun ajaran berikutnya dan paruh waktu di sebuah penerbit. Ia bukan satu-satunya: dalam tiga tahun terakhir ribuan guru di Jerman mengurangi jam mengajar atau benar-benar meninggalkan profesi ini.
Alasannya beragam. Banyak responden melaporkan tekanan yang meningkat dari orang tua yang terus mengirim email berisi kritik. Yang lain mengeluhkan kelas yang terlalu besar dan waktu yang terlalu sedikit untuk memberi perhatian pada masing-masing siswa. Ditambah lagi tugas-tugas yang tidak langsung berhubungan dengan mengajar: jadwal pengganti, rapat, dan platform digital yang sering rusak.
Peneliti pendidikan memperingatkan bahwa keadaan ini berbahaya dalam jangka panjang. „Kalau guru paling berpengalaman pergi, sekolah kehilangan stabilitasnya,“ kata Profesor Linde dari Universitas Köln. Ia menuntut kelas yang lebih kecil, lebih banyak psikolog sekolah, dan gaji yang lebih baik terutama untuk guru di sekolah-sekolah dengan masalah berat. Pemerintah dan serikat pekerja sepakat bahwa sesuatu harus dilakukan, tetapi reformasi nyata tertunda — antara lain karena biayanya tinggi.