Künstliche Intelligenz im Klassenzimmer
Immer mehr Lehrkräfte in Deutschland nutzen Programme mit künstlicher Intelligenz (KI), zum Beispiel um Quiz-Fragen vorzubereiten oder Texte für den Unterricht zu vereinfachen. Eine aktuelle Umfrage zeigt, dass rund vierzig Prozent der Lehrkräfte solche Tools mindestens einmal pro Woche verwenden.
Auch Schülerinnen und Schüler arbeiten mit KI. Viele lassen sich Hausaufgaben erklären oder kontrollieren ihre Texte vor der Abgabe. Lehrkräfte sagen: Das ist nicht grundsätzlich schlecht, solange die Schüler verstehen, was sie tun. Problematisch wird es, wenn Aufsätze komplett von einem Programm geschrieben werden.
Viele Schulen schreiben deshalb neue Regeln. An manchen Gymnasien dürfen KI-Tools im Unterricht offen genutzt werden, müssen aber in der Hausaufgabe genannt werden. An anderen Schulen sind sie bei Tests komplett verboten.
Bildungsexperten meinen, dass Schulen ihre Kinder fit für eine Welt mit KI machen müssen. Verbote allein helfen nicht — es brauche klare Regeln und vor allem Aufklärung, wie man die Technik sinnvoll einsetzt.
🇮🇩 Lihat terjemahan (Bahasa Indonesia)▼
Semakin banyak guru di Jerman menggunakan program dengan kecerdasan buatan (AI), misalnya untuk membuat soal kuis atau menyederhanakan teks untuk pelajaran. Survei terbaru menunjukkan sekitar 40% guru menggunakan alat seperti itu minimal sekali seminggu.
Siswa juga memakai AI. Banyak yang minta dijelaskan PR atau mengoreksi teks sebelum dikumpulkan. Para guru menilai itu tidak otomatis buruk, selama siswa paham yang mereka lakukan. Masalah muncul kalau esai sepenuhnya ditulis program.
Karena itu banyak sekolah membuat aturan baru. Di sebagian SMA, alat AI boleh dipakai terbuka saat pelajaran, tapi harus disebutkan di PR. Di sekolah lain, AI dilarang total saat ujian.
Pakar pendidikan menilai sekolah perlu menyiapkan anak-anak untuk dunia dengan AI. Larangan saja tidak cukup — perlu aturan jelas dan terutama edukasi cara memakai teknologi secara bijak.